No image available for this title

Portable Document Format

Usaha Merevitalisasi Bahasa Terancam—Bahasa Sepa



Menurut Krauss (1992), bahasa-bahasa di dunia boleh dibagi kepada tiga tipologi, yaitu a) bahasa-bahasa yang punah, b) bahasa-bahasa yang terancam punah, dan c) bahasa-bahasa yang masih aman. Untuk kategori “bahasa masih aman”, beliau selanjutnya menjelaskan bahwa bahasa ini masih aman karena berfungsi sebagai bahasa resmi dan mempunyai penutur yang lebih dari 100.000 orang. Namun kalau diteliti hujah beliau yang sudah berusia 25 tahun ini, apakah “bahasa yang masih aman” ini, masih aman pada hari ini? Jawabannya ialah “belum pasti” karena tiada bahasa yang akan aman di dunia ini, walaupun bahasa tersebut berstatus bahasa resmi atau lingua franca. Sebagai contoh, bahasa Siraya (bahasa Austronesia di Pulau Taiwan) suatu ketika dulu merupakan bahasa lingua franca di kalangan suku Austronesia. Bahasa ini asalnya berbentuk lisan, tetapi kemudian dirumikan menjadi bahasa di al-kitab Injil, surat perjanjian jual beli dan sebagainya. Bahkan bahasa ini juga dieja dengan aksara Mandarin untuk kegunaan di surat pajak. Pada ketika itu, bahasa ini memenuhi kriteria “bahasa masih aman” Krauss, yaitu mempunyai penutur yang cukup ramai dan digunakan oleh suku Austronesia lain sebagai bahasa interaksi; lihat Paul Li (2004). Namun oleh karena sinifikasi, yaitu perpindahan orang Tionghoa dari daratan China ke Taiwan dan selanjutnya populasinya bertambah mendadak, bahasa Siraya kian terancam dan pada hari ini, bahasa ini pupus dengan totalnya.
Sesungguhnya, fenomenon bahasa terancam punah berlaku lebih drastik pada bahasa daerah. Menurut Gufran (2011), bahasa-bahasa yang tarancam punah itu sebagian besarnya berada di daerah atau wilayah atau negara berkembang dan penuturnya rata-rata adalah merupakan etnik minoritas terisolasi atau minoritas yang berada dalam wilayah yang begitu beragam bahasa dan budayanya. Menurut Darwis (2011), masyarakat biasanya bersikap positif terhadap bahasa berprestis dan negatif terhadap bahasa daerah karena bahasa daerah terpantang kuno (telah menjadi milik masa lampau), adalah bahasa orang tidak berpendidikan, hanya digunakan di lingkungan kampung dan menghalangi kemajuan. Justeru karena ada sikap negatif sedemikian, bahasa daerah ditinggalkan oleh mereka dan bahasa berprestij dijadikan bahasa pilihan. Makalah sederhana ini bukan bertujuan mengulas isu-isu berhubung dengan kepunahan bahasa dan faktor penyebabnya, sebaliknya mengetengahkan satu usaha atau metode yang sedang dilakukan oleh proyek Yayasan Toyota (Kode: D-16-N-0074) untuk merevitalisasikan bahasa daerah yang terancam punah. Makalah ini dibagi kepada dua bagian utama, yaitu: (1) penerangan mengenai proyek Toyota Foundation, (2) Sorotan tentang definisi “dokumentasi bahasa” dan “revitalisasi bahasa”, (3) usaha revitalisasi di Sepa, Ambon.


Ketersediaan

Tidak ada salinan data


Informasi Detil

Judul Seri
-
No. Panggil
conference
Penerbit Kantor Bahasa Provinsi Maluku : Ambon.,
Deskripsi Fisik
-
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
conference
Tipe Isi
Portable Document Format
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subyek
Info Detil Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab

Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain


Lampiran Berkas



Informasi


DETAIL CANTUMAN


Kembali ke sebelumnyaXML DetailCite this